Imbas Kasus Beras Bohongan, Penjualan di Pasar Tradisional Meningkat
Kasus pemalsuan dan pengoplosan beras yang mencuat belakangan ini justru membawa berkah bagi pedagang beras di pasar tradisional. Banyak konsumen yang kini beralih dari ritel modern ke pasar untuk memastikan sendiri kualitas beras yang mereka beli.
Pantauan CNBC Indonesia di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Senin (4/8/2025), menunjukkan peningkatan aktivitas pembelian beras. Pedagang seperti Yanto dan Rahmat mengaku penjualan mereka meningkat karena masyarakat merasa lebih percaya membeli beras langsung dari pasar tradisional, di mana kualitas bisa dicek langsung, dibandingkan beras kemasan bermerek dari ritel modern yang tengah tersandung kasus pemalsuan.
Menurut Yanto, konsumen kini lebih waspada dan memilih beras dengan melihat langsung bentuk fisiknya. Kasus yang ramai dibicarakan bukan sekadar soal beras oplosan, tapi pemalsuan mutu, yakni beras medium yang dijual dengan label premium. Hal ini merugikan konsumen karena kualitas nasi yang dihasilkan berbeda.
Meskipun permintaan meningkat, harga beras di pasar tradisional terpantau stabil. Beras premium dijual Rp17.000–Rp19.000/kg, sementara beras medium berada di kisaran Rp15.000–Rp16.000/kg.
Sementara itu, Bareskrim Polri bersama Satgas Pangan terus menyelidiki dugaan perdagangan beras tak sesuai mutu. Dari 212 merek yang ditelusuri, ditemukan 52 produsen premium dan 15 produsen medium, dengan 5 merek terbukti tidak memenuhi standar mutu berdasarkan hasil uji laboratorium.